SEPUTAR TENNIS - Di akhir pekan lalu yang masih dihiasi badai di Lugano, Swiss, pengalaman menjadi faktor yang mengantarkan Polona Hercog melalui hujan dan memenangkan gelar ketiga dalam kariernya di Samsung Open.

Gambar 1. Polona Hercog Dan Simona Halep

TENNISSPORT.COMPetenis berkebangsaan Slovenia, Hercog tampil prima di set ketiga setelah melalui set kedua yang kurang meyakinkan demi menumbangkan petenis berusia 17 tahun, Iga Swiatek yang baru melakoni final turnamen WTA pertama dalam kariernya dan mempertahankan performa yang ia perlihatkan di Miami Open dua pekan lalu, walaupun harus kalah dari Simona Halep.
“Kemenangan di Lugano merupakan awal yang seperti mimpi memasuki musim clay-court. Saya benar-benar menantikannya, terutama setelah bermain dengan begitu baik di Miami melawan Halep. Saya pikir saya benar-benar bermain dengan baik dan saya menantikan untuk kembali ke clay-court serta menggunakan pertandingan itu untuk mendapatkan kepercayaan diri lebih. Saya tidak memikirkan final ketika tiba di Lugano, tetapi itu pekan yang menakjubkan dan awal yang luar biasa untuk memulai musim clay-court,” jelas Hercog.
Hercog memainkan permainan terbaiknya di clay-court yang dibuktikan dengan melakoni keenam final nomor tunggalnya di atas clay-court, tetapi di Miami ia mampu menyudutkan Halep untuk melakoni laga tiga set yang cukup ketat.
“Pertandingan itu memberi saya banyak hal. Saya mendapatkan begitu banyak dukungan dan pesan, hal itu sungguh mengagumkan. Saya merasa percaya diri setelah pertandingan itu, bahkan walaupun saya kalah, karena saya mengambil semua hal positif dari pertandingan itu,” tambah Hercog.
“Tentu saya merasa kecewa, sedikit, tetapi bertanding melawan petenis yang secara konstan berada di peringkat 10 besar lalu menduduki peringkat 1 dunia dalam dua musim terakhir, membuatnya berada di posisi yang menyulitkan, dan bahkan saya sudah begitu dekat untuk memenangkannya, itu perasaan yang menakjubkan.”
Hercog berencana untuk meneruskan langkahnya di musim clay-court dengan turun di Morocco Open, Rabat dan tentunya French Open.
“Saya tumbuh berkembang di clay-court dan sampai saya berusia 14 tahun, saya hampir secara eksklusif bermain di atasnya. Saya merasa sangat nyaman di atasnya dan lapangan itu sesuai dengan permainan saya, karena saya bisa mengkombinasikan ritme permainan dan menembakkan forehand saya. Saya juga bermain dengan cukup baik di hard-court, tetapi clay-court masih menjadi lapangan favorit saya,” tukas Hercog.

Artikel Terkait:

Silakan pilih sistem komentar anda ⇛   

0 komentar untuk Jumpa Simona Halep Di Miami Banyak Membantu Polona Hercog